Bugar Bukan Berarti Jantung Pasti Sehat: Mengapa masalah jantung bisa terjadi saat berolahraga?

Kita mungkin pernah mendengar seseorang tiba-tiba kolaps saat berolahraga. Masih muda, rajin berolahraga, mampu berlari 5K, 10K, bahkan half atau full marathon. Tubuhnya terlihat atletis dan bugar. Lalu muncul pertanyaan: “Bagaimana mungkin orang yang rutin berolahraga mengalami serangan jantung atau henti jantung?”

 

Jawabannya: bugar dan sehat bukanlah hal yang sama.

 

Bugar menggambarkan kemampuan tubuh melakukan aktivitas fisik, termasuk kemampuan jantung, paru, pembuluh darah dan otot menggunakan oksigen secara efisien. Sementara sehat mencakup kondisi tubuh secara keseluruhan, termasuk ada atau tidaknya penyakit. Seseorang dapat memiliki kebugaran yang sangat baik tetapi masih mungkin memiliki faktor risiko atau penyakit jantung yang belum terdeteksi. Meski demikian, kebugaran kardiorespirasi tetap merupakan salah satu penanda penting kesehatan kardiovaskular. Aktivitas fisik teratur terbukti memberikan manfaat besar dalam menurunkan risiko penyakit jantung dan kematian.

 

Olahraga membuat jantung bekerja lebih keras

Saat berolahraga, kebutuhan oksigen meningkat. Jantung merespons dengan meningkatkan denyut dan tekanan darah serta mengalirkan lebih banyak darah ke otot yang bekerja. Pada jantung sehat, ini merupakan respons fisiologis normal. Olahraga teratur dapat membantu mengendalikan tekanan darah, berat badan, gula darah, dan kolesterol, sekaligus meningkatkan kebugaran kardiorespirasi.

Namun, pada seseorang dengan penyakit atau mempunyai faktor risiko penyakit jantung, aktivitas fisik yang sangat berat dapat mencetuskan kejadian kardiovaskular, terutama bila intensitasnya jauh melebihi kebiasaan latihan. Karena itu, latihan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan ditingkatkan secara bertahap.

 

Olahraga sebagai pemicu, bukan penyebab utama

Ketika seseorang mengalami kejadian jantung saat berolahraga, sering muncul anggapan bahwa “olahraga menyebabkan serangan jantung.” Padahal, pada sebagian kasus, olahraga berperan sebagai pencetus pada kondisi jantung yang sudah ada. Aktivitas fisik berat dapat menjadi semacam stress test fisiologis: masalah yang tidak terlihat saat aktivitas sehari-hari dapat muncul ketika jantung bekerja jauh lebih keras. Dengan kata lain, olahraga dapat mengungkap atau mencetuskan masalah yang sudah ada, bukan berarti olahraga menyebabkan penyakit jantung. Secara keseluruhan, manfaat aktivitas fisik rutin jauh lebih besar daripada risiko kejadian kardiovaskular tersebut.

 

Mengapa orang yang sangat bugar tetap bisa mengalami masalah jantung?

Beberapa kemungkinan antara lain:

  1. Penyakit arteri koroner yang belum diketahui
    Dapat terjadi terutama pada individu dengan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, merokok, obesitas, atau riwayat keluarga penyakit jantung. Penyakit ini dapat berkembang tanpa gejala yang khas.
  2. Kelainan struktur atau otot jantung
    Pada usia muda, dapat ditemukan kondisi seperti hypertrophic cardiomyopathy (HCM) maupun kelainan struktural atau bawaan lainnya.
  3. Gangguan listrik jantung
    Kelainan sistem listrik, termasuk channelopathy atau kelainan bawaan saluran ion jantung, dapat memicu aritmia ventrikel dan pada kondisi tertentu menyebabkan henti jantung mendadak.

 

Serangan jantung ≠ henti jantung

Serangan jantung (heart attack) terjadi ketika aliran darah ke otot jantung berkurang atau terhenti, umumnya akibat penyakit arteri koroner. Sementara henti jantung (cardiac arrest) terjadi ketika jantung tiba-tiba tidak mampu memompa darah secara efektif. Keduanya dapat berkaitan, tetapi bukan suatu kondisi yang sama.

“Serangan jantung dapat menyebabkan henti jantung, tetapi tidak semua henti jantung disebabkan oleh serangan jantung.” Karena itu, istilah “serangan jantung” sebaiknya tidak digunakan untuk setiap kejadian seseorang yang tiba-tiba kolaps.

 

Belajar dari Christian Eriksen

Christian Eriksen adalah salah satu contoh atlet sepak bola profesional yang mengingatkan kita bahwa kebugaran fisik tidak membuat seseorang kebal terhadap gangguan jantung. Ia mengalami henti jantung saat pertandingan Euro 2020 dan berhasil diselamatkan melalui CPR dan defibrilasi yang cepat. Setelah evaluasi dan penanganan medis, termasuk pemasangan implantable cardioverter-defibrillator (ICD), ia dapat berhasil kembali berlaga di lapangan sepak bola.

Kisah ini memberikan dua pelajaran penting:

Pertama, kebugaran fisik yang sangat baik tidak menjamin seseorang bebas dari penyakit atau gangguan jantung tertentu. Kedua, pada henti jantung, setiap detik sangat berharga.

Pengenalan kejadian secara cepat, CPR berkualitas, dan defibrilasi sedini mungkin merupakan bagian penting dari rantai penyelamatan nyawa. Namun, kisah tersebut bukan alasan untuk takut berolahraga. Justru sebaliknya: olahraga perlu dilakukan dengan tepat, bertahap, terukur, dan sesuai kondisi kesehatan.

 

Kenali Risiko, Tetap Bergerak

Tidak semua orang yang ingin berolahraga membutuhkan pemeriksaan jantung lengkap. Namun, evaluasi medis perlu dipertimbangkan pada mereka yang memiliki penyakit atau faktor risiko kardiovaskular, riwayat keluarga kematian mendadak, atau akan memulai olahraga dengan intensitas jauh lebih tinggi dari biasanya, terutama bila muncul nyeri dada, sesak yang tidak biasa, pusing, jantung berdebar, atau pingsan saat berolahraga. Pada kondisi tersebut, jangan memaksakan diri untuk menyelesaikan target. Pingsan saat berolahraga bukan sekadar tanda “kurang fit” dan perlu dievaluasi sebelum kembali berolahraga.

Pada orang sehat dan tidak bergejala, pemeriksaan jantung rutin sebelum berolahraga umumnya tidak diperlukan. Namun, seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 35–40 tahun, penting untuk mengenali profil risiko dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Bila diperlukan, dokter dapat mempertimbangkan EKG, exercise test (treadmill/ergocycle), atau ekokardiografi sesuai kondisi dan indikasi klinis.

Di era fitness tracker dan running challenge, jangan terjebak pada prinsip “semakin berat, semakin sehat.” Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Mulailah sesuai kemampuan dan tingkatkan durasi, frekuensi, serta intensitas secara bertahap. Bahkan bagi pasien dengan penyakit jantung, olahraga tetap penting sebagai bagian dari rehabilitasi dan pencegahan sekunder kardiovaskular, dengan jenis dan dosis yang disesuaikan.

Jadi, apakah kita perlu takut berolahraga? Tidak. Kita justru perlu lebih takut menjadi tidak aktif.

Tetap bergerak, tetapi kenali kondisi kesehatan, pahami kemampuan tubuh, tingkatkan latihan secara bertahap, dan dengarkan sinyal tubuh. Karena tujuan olahraga bukan sekadar menjadi lebih cepat, lebih jauh, atau lebih kuat, tetapi menjadi lebih sehat dan memiliki hidup yang lebih berkualitas.

Bugar itu penting. Sehat itu harus diusahakan. Dan yang terbaik adalah memiliki keduanya.

 

Dasar ilmiah

Artikel ini mengacu terutama pada American Heart Association Scientific Statement mengenai exercise-related acute cardiovascular eventsESC Guidelines on Sports Cardiology and Exercise in Patients with Cardiovascular Disease, serta ESC Guidelines on Cardiovascular Disease Prevention

Share to
BraveHeart Check Up

membantu Anda memahami dan menjaga kesehatan jantung untuk hidup lebih sehat.

Tim Dokter Multidisiplin Kami

Dipimpin oleh dokter senior terkemuka, tim kami terdiri dari dokter spesialis dan subspesialis terbaik dari dua rumah sakit penelitian nasional utama di Indonesia, bersatu dengan semangat untuk memberikan perawatan pasien yang unggul.

Baca artikel lainnya